Musik Indie Indonesia di mata pengamat musik indie

Terkait perkembangan Musik Indie Indonesia, berikut petikan wawancara TNOL dengan pengamat musik jebolan dari Universitas Hasanuddin, Makassar ini.

Menurut Anda apa pengertian dari musik indie?

Indie itu sebenarnya bisa dianggap sebagai 'pemberontakan' oleh pemusik, ketika karya-karya mereka tidak diterima oleh label-label besar. Kemudian mereka, terutama di Amerika dan Inggris, membuat suatu gerakan dengan membuat, merekam, merilis, dan mengedarkan sendiri kaset-kasetnya. Jadi, mereka tidak terkontaminasi dengan doktrinasi dari orang-orang label.


Foto: Safari Sidakaton/TNOL



Itu terjadi tahun berapa? 


Kalau istilah indie, itu keluar diakhir tahun 1980-an. Kalau di Indonesia, pada tahun 1993, di Bandung, oleh  Richard Mutter, personil PAS Band. Tapi kalau dilihat secara historis, tahun 1975 Guruh Soekarno Putra membuat satu proyek eksperimen dengan nama Guruh Gipsy, eksperimen yang menggabungkan budaya Bali dengan musik rock. Nah, eksperimen itu tidak melalui distribusi nasional yang selama ini ada di Harco Glodok. Jadi, mereka menyebarkan kaset secara door to door, ada yang dititipkan di salon, di apotik, atau di sekolah-sekolah musik. Kaset itu dirilis tahun 1977. Kalau kita lihat, itu belum disebut indie, tapi saya melihat itu bisa dianggap 'cikal bakal' dari indie.
Kedua, pada tahun 1989, Iwan Fals membuat album yang namanya Mata Dewa. Itu juga tidak melalui Harco Glodok. Jadi, mereka mulai jual melalui mobil-mobil boks yang ada di Parkir Timur pada saat mereka konser. Waktu itu, yang membiayai album itu adalah Setiawan Djody dengan Sofyan Ali. Sebenarnya begini, Sofyan Ali kan promotor, ketika itu Iwan tidak boleh konser, maka dibuatlah album. Kemudian, datanglah Setiawan Djody. Sofyan Ali meminta Djody  untuk membiayai album itu. Itulah album yang dirilis tanpa doktrinasi dari label. Mereka buat sendiri saja. Waktu itu asisten director-nya Ian Antono.  Itulah album Mata Dewa.

Istimewa
iwal fals
Bagaimana perkembangan musik indie kedepannya?
Istimewa Sampai sekarang, justru indie masih tetap  berjalan. Kalau sekarang, malah kita lihat bahwa musik-musik indie itu mendapat respons yang cukup bagus di mata internasional. Ini terkait perkembangan informasi teknologi (IT), dan sosial media, yang menjadi interaksi internasional. Ketika itu ada MySpace, sekarang Youtube, atau Twitter, dan segala macam. Komunitas di luar merespons, dan mereka tertarik dengan band-band indie, sehingga secara berkala mengundang band-band indie Indonesia, untuk ikut acara-acara di luar.

Kenapa band-band tersebut masuk indie sementara banyak juga label?
Ya karena mereka tidak diterima, karena label sendiri itu industri, sehingga bermuara kepada kaidah-kaidah yang lebih komersil. Indie kan idealis mereka, 'gue mau begitu, itu musik yang gue suka'.

Bagaimana dengan group band indie yang mendapatkan label?

Kebetulan waktu itu, PAS sukses dengan album pertama yang laku, kemudian salah satu label terbesar di Indonesia tertarik dan mengontraknya. Pada saat itu, dari komunitas indie menganggap PAS ini pengkhianat dan segala macam. Saya sih melihat itu bukan pengkhianatan. Berarti, label ini melihat potensi dari  mereka. Akhirnya PAS juga masuk dengan persyaratan, ini tidak boleh diganggu gugat idealisme mereka. Ini kan satu potensi yang sangat bagus. Akhirnya ada titik temu, misalnya beberapa grup band indie juga sempat diambil oleh Warner. Tapi mereka lebih save berkarya sendiri. Samson juga awalnya itu ber-indie, kemudian karya mereka didistribusikan oleh Warner.


Apakah label mau menerima ketika grup band indie masih mengusung idealismenya? 

Itu tergantung labelnya sendiri, mereka melihat pasti kan punya takaran-takaran atau aturan-aturan tertentu  untuk melepaskan sebuah produk.

Tapi biasanya idealisme grup indie akan hilang ketika mendapat label?

Belum tentu juga. Misalnya Superman Is Dead. Masuk di Sony mereka masih bisa berkarya sebebas-bebasnya, tanpa merasa dibatasi walaupun harus dibawah kendali mereka. Ini berasal dari konsep kerja mereka seperti apa. Superman Is Dead masuk Sony punya persyaratan, 'gue enggak mau didikte'.

Bagaimana perkembangan musik indie ke depan, apakah masih diterima masyarakat?

Kalau dibilang masih diterima, mungkin ada satu yang cukup mengganjal, bahwa media-media ini lebih save kalau menampilkan musik-musik yang dari mainstream, karena mereka hidup dari iklan. Iklan ini mengacu dari rating. Pernah dicoba disalah satu program televisi, yang memanggil salah satu grup indie, ternyata rating-nya jeblok. Mereka mencoba bereksperimen, misalnya di Asean muncul, tapi teryata memang demand itu meminta yang massal, yang komersil. Jadi, akhirnya ya seperti ini. Karena anak-anak indie punya idealisme, gue enggak tampil di TV juga masih hidup. Kalau kita lihat lagi, anak-anak yang tergabung di indie juga sudah punya basic pekerjaan yang mapan. Jadi, bermusik ini mereka bisa seenaknya saja. Ini mereka katakan sebagai hobi, karena kalau orang-orang yang berada di indie bukan untuk cari makan disitu. Contohnya, ada yang bekerja sebagai desainer. Jadi, kebutuhan sehari-hari sudah tercover. Nah, untuk idealisme bermusik, ditumpahkan di musik indie.

Istimewa

Bagaimana agar grup indie ini bisa bertahan?

Sebetulnya, saat ini mereka sudah melakukan sesuatu, hanya tidak pernah diekspos media. Mereka tetap berkarya, banyak banget yang mendapat tempat di majalah, TV di luar, dan konser di sana; hanya saja tidak pernah diekspos oleh media-media disini.

Kenapa media tidak berpihak?

Saya juga tidak tahu kenapa.

Dari pengamatan Anda, ada yang kurang di musik indie?

Mungkin mereka sangat idealis saja. Mungkin racikan musik mereka masih kurang dimengerti oleh masyarakat awam. Terlalu idealis.


sumber : http://www.tnol.co.id/id/movies-music

Tidak ada komentar: